Rabu, 05 Januari 2011

hubungan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi

Hubungan pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi

1. Pertumbuhan penduduk yang tinggi dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Karena itu, meskipun program keluarga berencana (KB) digalakkan Indonesia, di sisi lain diperlukan angka pertumbuhan penduduk yang tinggi untuk meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi.
Pendapat yang didasarkan atas kajian penelitian itu dilontarkan oleh dosen Sekolah Tinggi Teologia (STT) Baptis Jakarta, Wilson Rajagukguk dalam disertasi doktornya di Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Kamis (14/1) pagi. Penelitian itu berangkat dari keinginan membuktikan dan mencari kebenaran mengenai adakah hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk.
Karena itu, Wilson Rajagukguk dalam disertasinya berjudul Pertumbuhan Penduduk sebagai Faktor Endogen dalam Pertumbuhan Ekonomi Indonesia mengangkat masalah tersebut dalam ujian untuk meraih gelar doktor ilmu ekonomi di UI dengan penguji Sri Moertiningsih Adioetomo, Nachrowi Djalal, Prijono Tjiptoherijanto (promotor), berikut N Haidy Pasay, dan Mangara Tambunan dengan hasil sangat memuaskan.
Berdasarkan simulasi dan analisis yang dilakukan dalam penelitiannya, ternyata terlihat kalau angka pertumbuhan ekonomi proporsional terhadap angka pertumbuhan penduduk. Ini berarti, pertumbuhan penduduk di Indonesia berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi. Penelitian Wilson ini diperkuat dengan argumen yang dikemukakan oleh Jones (1995), yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada masa lalu disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi.
Seperti diketahui, ada tiga aliran pemikiran dalam beberapa periode waktu yang membahas mengenai hubungan antara pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Aliran pertama adalah aliran tradisional pesimistis (1950-1970-an) yang beranggapan kalau pertumbuhan penduduk yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi (Malthusian dan Neo-Malthusian).
Masa Lalu
Aliran kedua adalah aliran revisionis yang meragukan pernyataan aliran sebelumnya karena tidak disertai dengan cukup bukti empiris. Sedangkan, aliran ketiga adalah aliran yang beranggapan kalau pertumbuhan penduduk memang sangat berarti bagi perkembangan ekonomi (population does matter, Birdsall dan Sindings, 2001).
Selain itu, disertasi timbul akibat banyaknya pendapat berbeda dari berbagai pemikir hebat mengenai pertumbuhan ekonomi pada masa lalu apakah karena meningkatnya pertumbuhan penduduk. Dengan menggunakan indikator angka pertumbuhan konsumsi, angka pertumbuhan kapital dan angka pertumbuhan output untuk mengevaluasi pertumbuhan ekonomi dan menggunakan indikator angka pertumbuhan penduduk untuk mengevaluasi pertumbuhan penduduk, maka penelitian ini lebih dapat akurat.
Sementara itu, Young (1995) mengemukakan, kalau pertumbuhan yang terjadi di Indonesia bersama Jepang, Hong Kong, Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Thailand, dan Malaysia merupakan dampak transisi demografi. Negara-negara tersebut bertumbuh karena mereka mengambil langkah besar dalam akumulasi modal fisik dan modal manusia.
Karena itu, Wilson ingin membuktikan kalau pendapat yang mengemuka selama ini kalau pertumbuhan penduduk berbanding negatif dengan pertumbuhan ekonomi adalah salah. Karena masih ada indikasi yang lain, yaitu berhubungan dengan anak usia sekolah yang selanjutnya bekerja.
2. Pertumbuhan penduduk terjadi menurut deret ukur sedangkan pertumbuhan produksi berlangsung secara deret hitung. Sebab itu akan terjadi peledakan penduduk yang berakibat kelaparan dan kematian. Keyakinan ini pertama kali dikemukakan oleh Prof. Thomas Robert Malthus (Universitas Cambridge, 1785). Akan tetapi Prof. Simon Kuznets membantahnya 173 tahun kemudian. Secara ilmiah ia membuktikan bahwa Malthus sama sekali salah. Untuk itu ia mendapat hadiah Nobel di bidang ekonomi pada tahun 1971.
Menurut Kuznets, pertumbuhan ekonomi berlangsung paling pesat pada saat pertumbuhan penduduk paling cepat pula. Keadaan ini dibuktikan oleh Eropa selama 100 tahun industrialisasi di Eropa. Prof Yamomoto di Jepang juga mempunyai keyakinan yang sama berdasarkan observasinya bahwa pertumbuhan ekonomi di Jepang paling tinggi terjadi dalam tahun 1970-an. Ia menunjuk ketika Jepang secara dramatis mengambil alih pasaran produksi mobil dunia selama 30 tahun terakhir abad ke-20.
Alasan utama korelasi antara pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi sebenarnya sederhana. Yaitu terdapatnya permintaan sangat besar dalam penduduk yang bertumbuh. Terdapat lebih banyak pembeli untuk produk yang dihasilkan, sehingga secara alamiah produksi makin tumbuh dan makin banyak orang bekerja, dengan demikian kemiskinan terhapus. Pertumbuhan penduduk adalah stimulus terbesar untuk kemajuan ekonomi. Tekanan karena pertumbuhan penduduk pada sumber daya yang terbatas pada saat tertentu di suatu daerah tertentu menjadi daya dorong paling besar terhadap inovasi teknologi dan peningkatan produksi. Dengan demikian Thomas Malthus, seorang pastor Inggris yang pertama-tama bicara tentang peledakan penduduk dengan akibat kelaparan dan kematian terbukti salah berkali-kali.
Akan tetapi hasil seperti ini tidak akan terjadi bila daya beli dihilangkan dari penduduk yang tumbuh. Penduduk tidak bisa membeli bila mereka tidak memiliki uang. Mereka tidak punya uang karena gaji yang rendah. Karena penghasilan yang seharusnya mereka terima tersedot oleh pembayaran hutang nasional dan internasional, oleh berbagai pemotongan pajak khusus untuk investasi asing (seperti tax holiday /bebas pajak untuk waktu tertentu), dan lebih-lebih oleh korupsi dan suap. Maka pendapatan yang seharusnya diterima masyarakatto, semua itu beralih menjadi milik para pejabat dan orang-orang tertentu.
Bagi para politikus, mereka lebih senang menyerang jumlah penduduk kalau mereka tidak mempunyai obat untuk menghilangkan kemiskinan dari masyarakat disebabkan suap dan korupsi yang telah berurat akar. Karena tiadanya kesediaan mereka menutup bocornya dana kepada beberapa orang tertentu. Kemiskinan adalah akibat kolusi pemerintah dan pengusaha
Jumlah penduduk yang besar dengan kualitas yang rendah akan membebani pertum-buhan ekonomi negara. Hal itu disebabkan karena rasio ketergantungan penduduk sangat tinggi. Rasio ketergantungan penduduk, menunjukkan perbandingan antara jumlah penduduk yang tidak produktif terhadap 100 orang yang produktif. Contoh, bila rasio ketergantungan penduduk sebesar 75 per 100 penduduk, ini berarti bahwa tiap 100 orang yang produktif harus menanggung 75 orang yang tidak produktif.
Dengan demikian, maka timbullah pertanyaan, apakah pertumbuhan penduduk dapat menjadi (i) penghambat, (ii) penunjang, atau (iii) tidak ada hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi. Kelompok aliran tradisionalisme merasa pesimis bahwa per-tumbuhan penduduk yang tinggi akan menghambat perkembangan ekonomi. Kelompok revisionis meragukan pendapat tradisionalis dengan alasan belum ditemukannya cukup bukti empiris yang mendukung hubungan negatif tersebut. Kelompok aliran lain berpendapat bahwa pertumbuhan penduduk memang sangat berarti bagi perkembangan ekonomi.
Dari hasil berbagai penelitian para pakar ekonomi-demografi sejak tahun 2000-an, dapat disimpulkan bahwa (i) pertumbuhan penduduk mempunyai hubungan kuat-negatif dan signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi; (ii) penurunan pesat dalam fertilitas memberikan kontribusi yang relevan terhadap penurunan kemiskinan.
Variabel penduduk dan ekonomi yang diikutsertakan dalam rumus itu adalah GDP per kapita, GDP per kapita/per sen, laju pertumbuhan penduduk, per sen perubahan jumlah penduduk usia kerja, angka kelahiran kasar (CBR), angka kematian kasar (CDR), rasio ketergantungan anak muda, rasio ketergantungan Lansia, kepadatan penduduk dan jumlah penduduk.
Kalau dilihat dari tingkat pertumbuhan penduduk saja, hubungannya adalah negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Tetapi, untuk keperluan pengambilan kepu-tusan (decision making proses), perlu dilihat faktor apa sebenarnya yang merupakan sumber dan saat (timing) perubahan, serta bagaimana dampak masing-masing terhadap pertumbuhan ekonomi yang diukur dengan GDP per kapita.
Pertumbuhan penduduk usia kerja (15-54) yang lebih pesat dibandingkan dengan pertumbuhan penduduk usia muda (0-14) memberikan peluang untuk menda-patkan bonus demografi (demographic dividend / demographic gift). Apabila ada respon kebijakan pemerintah yang positif pada saat bonus demografi dengan menyediakan tenaga kerja cukup besar untuk meningkatkan produktivitas.
Bagaimana proses mencapai tahap bonus demografi dan bagaimana suatu negara dapat memanfaatkannya untuk peningkatan kesejahteraan rakyat? Perubahan struktur umur penduduk ini dapat terjadi karena adanya proses transisi demografi secara berke-lanjutan dan berjangka panjang. Mula-mula tingkat mortalitas harus diturunkan, melalui pelayanan kesehatan yang baik. Penurunan kematian bayi tidak langsung diikuti dengan penurunan fertilitas. Penurunan kematian bayi menyebabkan lebih banyak bayi yang survive, dapat terus hidup mencapai usia yang lebih tinggi. Setelah beberapa lama, tingkat fertilitas akhirnya akan menurun juga. Kalau sudah demikian, maka terjadilah pergeseran distribusi penduduk menurut umur, yang menyebabkan menurunnya rasio ketergantungan penduduk usia non produktif dan penduduk usia produktif.
Bagaimana dengan bonus demografi Indonesia? Apakah Indonesia juga akan mengalami bonus demografi? Kapan? Bouns demografi sering dikaitkan dengan suatu kesempatan yang hanya akan terjadi satu kali saja, bagi semua penduduk nagara, yakni the window of opportunity. Oleh karenanya, kepada segenap anggota Partai Kesatuan dan Persatuan Indonesia diajak secara sadar untuk turut menurunkan angka pertum-buhan penduduk Indonesia, agar dengan demikian dapat mencari bonus demografi.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by endang dafa | Blogger by kuskusshop - Dafa Themes | Online Project kuskusshop
Feed facebook twitter bookmark G+ textgeneratorfb